Rabu, 04 Januari 2012

NASIHAT BIJAK


Kekuatan Cinta

Nasihat 1. Kebahagiaan

Ada seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung, matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah dilewatinya, namun tak satupun titik membuatnya puas. Kekosongan makin senyap sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain disana.

”Sedang apa kau disini, anak muda? ’ tanya orang itu. Rupanya seorang kakek tua.”Apa yang kau risaukan?” Anak muda itu menoleh, ”aku lelah, pak tua. Telah berkilometer jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namu tak jua kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemanakah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu? ”
Kakek tua mengambil tempat disamping pemuda itu. Ia mendengarkan keluhan pemuda itu dengan penuh perhatian. Dipandanginya wajah lelah si pemuda. Lalu, ia berkata, Di depan sana ada taman. Jika kau ingin jawabannya, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku.”

Pemuda itu menatap kakek itu. Tidak percaya. Si kakek menganggukkan kepalanya. ”Ya tangkapkan seekor kupu-kupu untukku dengan tanganmu,” kakek itu mengulang kalimatnya. Perlahan pemuda itu bangkit. Ia menuju arah yang ditunjuk kakek tadi. Ke taman. Dan benar, ia menemukan taman itu. Taman yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga bermekaran. Tak heran banyak kupu kupu yang bertebrangan dis ana. Anak muda itu terus bergerak. Mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Hap! Luput. Segera dikejarnya lagi kupu kupu itu. Ia tak mau kehilangan buruan. Sekali lagi, tangannya menyambar. Hap!. Gagal.

Anak muda itu mulai berlari tak beraturan. Menerjang, kesana kesini, Merobek ilalang, menerjang perdu, mengejar kupu kupu itu. Gerakannya semakin liar. Sejam, dua jam. Belum ada tanda-tanda pemuda itu akan berhenti. Belum ada kupu kupu tertangkap. Pemuda itu mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik turun dengan cepat. Tiba-tiba ada teriakan, ”Berhenti dulu anak muda. Istirahatlah!” Rupanya sang kakek. Ia berjalan perlahan. Tapi, lihatlah! Ada sekumpulan kupu kupu bertebrangan di kedua sisinya. Beberapa hinggap di tubuh tua itu.
”Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang ? Menabrak nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?” Sang kakek itu menatap pemuda itu. ”Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan megnhindar. Semakin kau buu, semakin pula ia akan pergi dari dirimu.”

”Tangkaplah kupu kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia takkan lari kemana mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri”
Kakek tua itu mengangkat tangannya, dan seekor kupu kupu hinggap di ujung jari. Terlihat kepak kepak sayap kupu kupu itu memancarkan keindahan. Pesonanya begitu mengagumkan. Kelopak sayap yang megalun perlahan layaknya kebahagaiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah. Seindah kebahagaiaan bagi meraka yag mampu menyelaminya.

Teman, benar. Mencari kebahagiaan layaknya menangkap kupu kupu. Sulit bagi mereka yang terlalu bernafsu. Tapi mudah bagi yang tau apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menrjang sana sini, atau menerobos sana sini. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang ke seluruh penjuru arah. Kitapun dapat meraihnya dengan bernafsu seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya.
Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan itu tak bisa didapat dengan cara-cara yang seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat digenggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara. Kebahagaiaan adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.

Teman, cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita, dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi, dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu dengan perlahan dalam tenang dan dalam ketulusan hati kita.
Bahagia itu ada di mana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan, bahagia itu ”hinggap” di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga bahagia itu bertebrangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.
Nasihat kedua


Dua Kisah,


Teman, aku punya dua buah kisah yang mungkin menarik untukmu.

Ini kisah yang pertama

Ada seorang tua yang bijak. Suatu pagi ia kedatangan anak muda . langkahnya gontai, air mukanya ruwet. Ia seperti sedang dirundung masalah. Anak muda itu menumpahkan semua masalahnya. Pak tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Setelah tamunya tuntas bercerita, tiba tiba orang tua itu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas. Diaduknya perlahan.
Minum dan katakan bagaimana rasanya!” kata pak tua itu singkat.
”Puih...!” Sang tamu meludah ke samping. ”Asin sekali. Tenggorokanku seperti tercekik,’ kata si pemuda itu lagi. Pak tua itu tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ketepian telaga di dalam hutan tak jauh dari tempat tinggalnya. Pak tua itu menaburkan segenggam  garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu diaduknya telaga itu.
”Ambil air dari telaga ini dan minumlah!” Setelah si pemuda selesai meneguk air itu pak tua bertanya, ”Bagaimana rasanya?” Segar , jawab pemuda itu.
”Apakah kamu merasakam garam di dalam air tiu?” ”Tidak”.

Pak tua itu tersenyum bijak. Ia menepuk punggung si pemuda dengan lembut. Dibimbingnya anak muda itu duduk bersimpuh di sisi telaga.

”Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layak segenggam garam. Tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya sama, dan memang akan tetap sama,” tutur pak tua.
”Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki, Kepahitan itu akan terasa tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak tua itu menatap si pemuda lembut. ”Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas. Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.” Setelah itu keduanya beranjak pulang.

Hari ini mereka sama sam belajar. Pak tua bijak itu kembali menyimpan, ”Segenggam garam” untuk anak muda lain yang mungkin datang membawa keresahan jiwa.

Teman, ini yang kedua.

Kisah tentang dua buah bibit.

Ada dua buah bibit tanaman terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit pertama berkata, ”Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menghujamkan akarku dalam dalam di tanah ini. Aku ingin menjulangkan tunas-tunasku ke angkasa. Aku ingin tunasku menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembuatan embun pagi di pucuk pucuk daunku.” Dan, bibit itu tumbuh.

Bibit yang kedua, bergumam, ”Aku takut jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana sangat gelap?” Dan jika kuteroboskan tunasku ke atas bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka dan siput mencoba memakannya? Dan pasti jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak! Akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman.”
Dan bibit itupun menunggu dalam kesendirian.

Beberapa pekan kemudian seekor ayam mengais tanah dan menemukan bibit kedua tadi. Ayam itu mencaploknya segera.
Nasehat ke-5 : Daun

Seorang pemuda duduk sendiri di sebuah taman. Di pangkuannya terhampar sebuah buku yang masih terbuka. Disebelah kanannya, sisa makanan berhimpit dengan botol minuman. Hari itu adalah awal musim gugur di tahun ini. Tak heran banyak sekali daun berjatuhan. Terserak, begitupun di bangku tempat pemuda itu duduk.

Sang pemuda masih menikmati sore itu dengan membaca. Tangannya membolak-balik halaman buku. Setiap kali selesai membaca beberapa paragraf, matanya tak lepas dari urutan kata dalam buku. Menelusuri tiap kalimat yang tersusun di sana. Tak ada rasa terganggu dengan daun-daun yang sesekali terjatuh menimpanya. Sementara itu di kejauhan, ada beberapa anak kecil berlari. Mereka bermain, menikmati sore yang indah itu.

Srekkk...srekk. Terdengar langkah. Pemuda itu menoleh. Srekk..srekk.. srekk. Terdengar lagi langkah kaki bergesekan dengan daun-daun. Seorang ibu sedang memunguti daun-daun. Tangan kirinya mengenggam kantung kain. Isinya daun-daun kering.

Pemuda itu tertegun. Heran. ”Ibu sedang apa?” ”Aku sedang mengumpulkan daun.” Mata tuanya terus menjelajah, mengamati hamparan daun di taman itu. ”Aku sedang mencari daun-daun terbaik untuk kujalin menjadi mainan buat anak-anak di sana.”

Satu dua daun dimasukkan ke kantung kain. Pemuda itu beringsut. Buku didepannya diletakkan. Ia kembali bertanya, ”Sejak kapan Ibu melakukannya?” ”Setiap musim gugur aku lakukan ini untuk anak-anak. Akan kubuatkan selempang dan mahkota daun buat mereka, Jika aku dapat banyak daun, akan kubuatkan pula selubung-selubung ikat pinggang. Ah, mereka pasti senang.” mata tua itu berbinar. Syal dilehernya berjuntai di bahu. Tangannya kembali memasukkan beberapa daun.

”Tapi Bu, sampai kapana Ibu lakukan ini?” Anak-anak itu pasti akan membuat semuanya rusak setiap kali mereka selesai bermain. Lagipula, terlalu banyak daun yang ada disini. Ini musim gugur, daun itu akan terus jatuh layaknya hujan, ” Lagi-lagi si pemuda bertanya, ”Apa Ibu tak pernah berpikir untuk berhenti ?”

”Berhenti? Berpikir untuk berhenti ? Memang, anak-anak itu akan selalu merusak setiap rangkaian daun yang kubuat. Mereka juga akan selalu membuat daun mahkotaku koyak. Selempang daunku juga akan putus setiap kali mereka selesai bermain. Tapi, itu semua tak akan membuatku berhenti.” Ibu tua itu menarik nafas. Syal di lehernya makin dipererat.
”Masih ada ribuan daun yang harus kupungut disini. Masih ada beberapa kelok jalan yang harus kutempuh. Waktuku mungkin tak cukup untuk mengambil semua daun disini. Tapi, aku tak akan berhenti.”

”Akankah aku berhenti dari kebahagiaan yang telah kutemukan?” Akankah aku berhenti memandang kegembiraan dan binar-binar mata anak-anak itu?” Akankah aku menyerah dari kedamaian yang telah aku rasakan setiap musim gugur itu?” Tanyanya retoris.
”Tidak, nak! Aku tidak akan berhenti berusaha untuk kebahagiaan itu. Aku tidak akan berhenti hanya karena koyaknya mahkota daun atau ribuan daun lain yang harus kupungut.”

Tangan tua itu kembali meraih sepotong daun. Lalu, dengan suara pelan, ia berbisik, ”Ingat nak, jangan berhenti. Jangan pernah berhenti untuk berusaha.” Larik-larik senja telah muncul, menerobos sela-sela pohon untuk membentuk sinar-sinar panjang, dan berpendar pada tubuh ibu tua itu.

Teman, adakah kita pernah merasa ingin berhenti dari hidup ini ? Adakah kita pernah merasa gagal? Adakah kita berpikir untuk tak mau melanjutkan impian-impian kita ? Saya percaya, ada banyak dari kita yang pernah mengalaminya. Ada banyak dari kita yang mungkin berpikir untuk menyerah karena begitu banyaknya tantangan yang kita hadapi.

Namun, apakah kita harus berhenti berusahaketika melihat ”mahkota-mahkota daun” impian kita koyak? Haruskah kita berhenti saat ”selempang daun” harapan yang kita sandang putus? Akankah kita menyerah saat ”rangkain daun” kebahagiaan kita tak berbentuk? Saya percaya, ada banyak pilihan untuk itu. Beragam pilihan akan muncul di kepala kita saat kenyataan pahit ada di depan kita.

Lalu, akankah kita surut melangkah, saaat kita melihat ada ribuan ”daun tantangan” yang harus kita pungut? Akankah kaki kita menyerah ketika kita bertemu dengan hamparan ”daun hijau” di depan kita? Agaknya, kita harus ingat perkataan ibu tua itu. ”Jangan pernah berhenti untuk berusaha. Jangan pernah menyerah untuk kebahagiaan yang akan kita raih.”

Teman, Ibu tua itu benar. Kita mungkin tak akan mampu meraih semua daun-daun kebahagiaan itu. Mahkota, selempang, dan selubung ikat pinggang daun itu akan koyak. Tapi, janganlah itu membuat kita berhenti melangkah. Masih ada berjuta daun-daun harapan lain yang masih dapat kita pungut. Di depan sana, masih terhampar berjuta daun impian lain yang memberikan kita beragam pilihan. Mungkin jalan di depan masih berkelok, masih panjang, namun daun-daun itu ada di sana. Berjuta daun kebahagiaan lain masih menunggu untuk kita rajut, jalin, anyam dan susun. Jangan menyerah. Jangan pernah menyerah, karena ALLAh selalu bersama hamba-Nya yang sabar.

Nasihat ke-6 : Pendaki



Seorang pendaki gunung sedang bersiap-siap melakukan perjalanan. Di punggungnya, ada ransel dan beragam carabiner (pengait). Tak lupa tali-temali tersusun melingkar di sela-sela bahunya. Pendakian kali ini cukup berat. Jadi, persiapannya harus lebih lengkap.

Kini, dihadapan pendaki itu menjulang sebuah gunung yang tinggi. Puncaknya tak terlihat. Tertutup salju yang putih. Awan yang berarak disekitarnya, membuat tak seorangpun tahu apa yang tersembunyi di sana.
Mulailah pendaki itu  melangkah, menapaki jalan-jalan bersalju yang terbentang di hadapannya. Tongkat berkait yang disandangnya menancap setiap kali ia mengayunkan langkah.

Setelah beberapa jam berjalan, mulailah ia menghadapi dinding yang terjal. Tak mungkin baginya untuk terus melangkah. Dipersiapkannya tali-temali dan pengait di punggungnya. Tebing itu terlalu curam. Ia harus mendaki dengan tali-temali itu. Setelah beberapa kait ditancapkan, tiba-tiba terdengar gemuruh datang dari atas. Astaga, ada badai salju datang tanpa diundang!

Longsoran salju meluncur deras. Menimpa tubuh sang pendaki. Bongkah-bongkah salju yang mengeras terus berjatuhan disertai deru angin yang membuat tubuhnya terhempas ke arah dinding.
Badai itu terus berlangsung selama beberapa menit. Namun, untunglah, tali-temali dan pengait telah menyelamatkan tubuhnya dari dinding yang curam itu. Semua perlengkapannya hilang. Hanya tersisa sebilah pisau di pinggangnya. Sang pendaki, itu tergantung terbalik di dinding yang terjal itu.

Pandangannya kabur, semua tampak memutih. Ia tak tahu di mana berada. Sang pendaki cemas, Ia berkomat-kamit memohon doa kepada Tuhan agar diselamatkan dari bencana. Mulutnya terus bergumaman, berharap ada pertolongan yang datang.

Suasana hening setelah badai. Ditengah kepanikan itu, terdengar suara hati kecilnya yang menyuruhnya melakukan sesuatu. ”potong tali itu! potong tali itu!” Terdengar senyap melintasi telinganya. Sang pendaki bingung, apakah ini perintah dari Tuhan?” Apakah suara ini adalah pertolongan dari Tuhan? Tapi bagaimana mungkin, memotong tali yang telah menyelamatkannya, sementara dinding itu begitu terjal? Pandanganku terhalang oleh salju ini, bagaiman aku bisa tahu ?
Banyak sekali pertanyaan dalam dirinya. Lama ia ragu untuk mengambil keputusan. Lama, Ia tak mengambil keputusan apa-apa.

Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki menemukan tubuh tergantung terbalik di sebuah dinding terjal. Tubuh itu beku. Tampaknya ia meninggal karena kedinginan. Sementara, batas tubuh itu dengan tanah berjarak 1 meter saja!

Teman, kita mungkin akan berkata, betapa bodohnya pendaki itu karena tak mau menuruti kata hatinya. Kita mungkin akan menyesalkan tindakan pendaki itu yang tak mau memotong saja tali pengaitnya. Pendaki itu tentu akan selamat dengan membiarkan dirinya jatuh ke tanah yang hanya berjarak 1 meter. Ia tentu tak harus mati kedinginan.

Begitulah, kadang kita berpikir mengapa Allah tampak tak melindungi hamba-NYA? Kita mungkin sering merasa mengapa ada banyak sekali beban, masalah, hambatan, yang kita hadapi dalam mendaki jalan kehidupan ini. Kita sering mendapati ada banyak sekali badai salju yang terus menghantam tubuh kita. Mengapa tak disediakan saja jalan lurus tanpa perlu menanjak agar kita terbebas dari semua halangan itu ?

Namun, Teman, cobaan yang diberikan Allah buat kita adalah latihan. Hanya ujian. Kita adalah layaknya besi-besi yang ditempa. Kita adalah seperti pisau – pisau yang terus diasah. Sesungguhnya, di semua ujian dan latihan itu tersimpan petunjuk. Ada tersembunyi tanda-tanda, asal kita percaya. YA, ASAL KITA PERCAYA.

Seberapa besar rasa percaya kita kepada Allah Azza wa Jalla, sehingga mampu membuat kita memututuskan ”memotong tali pengait” saat tergantung terbalik ? Seberapa besar rasa percaya kita kepada Allah hingga kita menyerahkan semua yang ada pada diri kita kepada-NYA?

Teman, percayalah.. Akan ada petunjuk-petunjuk Allah dalam setiap lamgkah kita menapaki jalan kehidupan ini. Carilah, gali dan temukan rasa percaya itu dalam hatimu. Sebab, saat kita telah percaya maka petunjuk itu akan datang dengan tanpa disangka.
Nasihat ke-7 : Api dan Asap


Suatu ketika ada kapal tenggelam akibat diterjang badai. Tak ada penumpangnya yang tersisa. Kecuali, satu orang yang berhasil mendapatkan pelampung. Namun nasib baik belum seutuhnya berpihak kepada pria itu. Dia terdampar di sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Sendiri, tanp bekal dan makanan.

Orang itu berdoa pada Allah minta diselamatkan. Usia berdo’a ia pandangi penjuru cakrawala. Berharap ada kapal yang datang. Tapi, tak ada tanda-tanda kapal yang diharapkan tiba. Ia berdo’a lagi lebih khusyu’. Kemudian menatap jauh ke laut lepas. Todak ada kapal yang datang. Sekali lagi pria itu berdo’a, tetapi tidak ada juga kapal yang diharapkan. Ya, pulau tempatnya terdampar terlalu terpencil. Hampir tidak ada kapal lewat didekatnya
Akhirnya pria itu berdo’a lagi. Ia telah lelah berharap. Lalu, ia menghangatkan badan. Dikumpulkannya pelepah nyiur untuk membuat perapian. Setelah tubuhnya terasa nyaman, pria itu membuat rumah-rumahan sekedar tempat melepas lelah. Disusunnya semua nyiur dengan cermat agar bangunan itu kokoh dan dapat bertahan lama.

Keesokan harinya, pria malang ini mencari makanan. Dicarinya buah-buahan untuk pengganjal perutnya yang lapar. Semua pelosok dijelajahi hingga kemudian ia kembali ke gubuknya. Namun, ia terkejut. Semuanya telah hangus terbakar, rata dengan tanah, hampir tak bersisa. Gubuk itu terbakar karena pria itu lupa memadamkan perapian. Asap membumbung tinggi ke angkasa. Hilanglah semua kerja kerasnya semalaman.
Pria itu berteriak marah, ”Tuhan, mengapa Engkau lakukan ini padaku. Mengapa? Mengapa... ?’ Teriaknya melengking menyesali nasib.

Tiba-tiba terdengar suara peluit. Tuiittt... tuuitt... ternyata itu suara sebuah kapal yang sedang mendekat. Kapal itu merapat ke pantai. Beberapa orang turun menghampiri pria yang sedang menangisi gubuknya itu.
Tentu saja pria itu terkejut. ”Bagaimana kalian bisa tahu aku ada disini ? ” tanyanya penuh keheranan. ”Kami melihat simbol asapmu!” jawab salah seorang awak kapal.

Teman, itulah kita. Kita adalah orang yang manja dan pemarah disaat ditimpa musibah. Bahkan, selalu menilai bahwa nestapa yang kita terima adalah penderitaan yang begitu  berat dan tak pernah dirasakan oleh siapapun. Itulah sebabnya kenapa kita begitu mudah mengeluh, marah dan bahkan mengumpat.

Teman, tentu sikap itu tidak tepat. Seharusnya, Musibah tidak boleh membuat kita kehilangan hati kita. Allah selalua ada di hati kita, walaupun dalam keadaan yang paling berat sekalipun. Sebab, Tuhan itu tidak tidur. Ia tahu betul kegelisahan dan jeritan hati kita. Dia Maha Pegasih lagi Maha Penyayang. Dan Kasih-NYA selalu datang pada kita. Pada saat dan cara yang tidak disangka-sangka. Hanya saja kita terlalu kerdil untuk memahaminya.
Pasir dan Batu

        Dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka tengah melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya ada pasir membentang.
   Jejak-jejak kaki mereka meliuk-liuk di belakang. Membentuk kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka tapaki. Debu-debu pasir yang beterbangan memaksa mereka berjalan merunduk.
   Tiba-tiba badai datang. Angin besar menerjang mereka. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu limbung. Pasir betebaran di sekeliling mereka. Pakaian mereka mengelepak, menambah berat langkah mereka yang terbenam di pasir. Mereka saling menjaga dengan tangan berpeganganerat. Mereka mencoba melawan ganasnya badai.
   Badai reda, tapi musibah lain menimpa mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya tercecer. Entah gundukan pasir yang mana yang meneguknya. Kedua pengembara itu duduk tercenung, menyesali kehilangan itu. “ Ah…tamatlah riwayat kita,” kata pengembara pertama. Lalu ia menulis di pasir dengan itu ujung jarinya. “Kami sedih. Kami kehilangan bekal minuman kami di tempat ini.”
   Kawannya, si pengembara dua pun tampak bingung. Namun, mencoba tabah. Membereskan perlengkapannya dan mengajak kawannya melanjutkan perjalanan. Setelah lama menyusuri padang pasir, mereka melihat ada oase di kejauhan.
   “Kita selamat,” seru salah seorang di antara mereka.
   “Lihat, ada air di sana.”
   Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berlari ke oase itu. Untung, bukan fatamorgana. Benar-benar sebuah kolam. Meski kecil tapi airnya cukup banyak. Keduanya pun segera minum sepuas-puasnya dan mengisi kantong air.
   Sambil beristirahat, pengembara pertama mengeluarkan pisau genggamnya dan memahat di atas sebuah batu. “Kami bahagia. Kami dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini.”
   Pengembara kedua heran. “Mengapa kini engkau menulis di atas batu, sementara tadi kau menulis di pasir?”
   Yang ditanya tersenyum. “Saat kita mendapat kesusahan, tulislah semua itu di pasir. Biarkan angin keikhlasan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan catatan itu hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan. Biarkan semuanya lenyap dan pupus,” jawabnya dengan bahasa cukup puitis. “Namun ingatlah saat kita mendapat kebahagiaan. Pahatlah kemuliaan itu di batu agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan kesenangan itu dikerasnya batu agar tak ada yang dapat menghapusnya. Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada. Biarkan semuanya tersimpan.”
   Keduanya bersitatap dalam senyum mengembang. Bekal air minum telah didapat, istirahatpun telah cukup, kini saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Kedua pengembara itu melangkah dengan ringan seringan angin yang bertiup mengiringi.
   Teman kesedihan dan kebahagiaan selalu hadir. Berselang-seling mewarnai panjangnya hidup ini. Keduanya mengguratkan memori di hamparan pikiran dan hati kita. Namun, adakah kita bersikap sepe rti pengembara tadi yang mampu menuliskan setiap kesedihan di pasir agar angin keikhlasan membawanya pergi? Adakah kita ini sosok tegar yang mampu melepaskan setiap kesusahan bersama terbangnya angin ketulusan?
   Teman, cobalah untuk selalu mengingat setiap kebaikan dan kebahagiaan yang kita miliki. Simpanlah semua itu di dalam kekokohan hati kita agar tak ada yang mampu menghapusnya. Torehkan kenangan bahagia itu agar tak ada angin kesedihan yang mampu melenyapkannya. Insya Allah, dengan begitu kita akan selalu optimistis dalam mengarungi panjangnya hidup ini.
Nasihat ke-8 : PAKU


Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Ayahnya berusaha keras untuk membuang sifat buruk anaknya. Suatu hari ia memanggil anaknya dan memberinya sekantong paku. Paku ? Ya, paku !

Sang anak heran. Tapi, bibir ayahnya justru membentuk senyum bijak. Dengan suaranya yang lembut, ia berkata kepada anaknya agar memakukan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali ia marah. Ajaib !

Di hari pertama, sang anak menancapkan 48 paku! Begitu juga di hari kedua, ketiga, dan beberapa hari selanjutnya. Tapi, tak berlangsung lama. Setelah itu jumlah paku yang tertancap berkurang secara bertahap. Ia menemukan fakta bahwa lebih mudah menahan amarah daripada memakukan begitu banyak paku ke pagar.

Akhirnya, kesadaran itu membuahkan hasil. Si anak telah bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. Ia bergegas memberitahukan hal itu kepada ayahnya. Sang ayah tersenyum. Kemudian ia meminta sang anak agar mencabut paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya berhasil mencabut semua paku yang pernah ditancapkannya. Ia bergegas melaporkan kabar gembira itu kepada ayahnya. Sang ayah bangkit dari duduknya dan menuntun si anak melihat pagar belakang rumah itu.

”Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakkku. Tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya, ” kata si ayah bijak.

Sang ayah sengaja memotong kalimatnya pendek pendek agar si anak bisa mencerna maksudnya dengan baik. Si anak menatap ayahnya dengan sikap menunggu apa kelanjutan ujaran ayahnya itu.

”Ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu itu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau kepada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi, tidak peduli berapa kali kamu akan meminta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan, luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik,” ucap sang ayah lembut namun sarat.

Sang anak membalas tatapan lembut ayahnya dengan mata berkaca-kaca
Mewek... Pelajaran yang diberikan ayahnya begitu tajam menghujam relung hatinya

Teman, saling memaafkan mungkin bisa mengobati banyak hal. Tapi, akan sirna maknanya saat kita mengulangi kesalahan serupa. Padahal, lubang bekas cabutan paku yang sebelumnya masih menganga.

Jadi, berhati-hatilah,teman.

Semoga ALLAH melembutkan hati kita dan menghiasinya dengan sifat sabar tanpa tepi. Amiin

Judul : Layang-layang

Di sebuah taman kota, duduk 2 orang di sebuah bangku panjang. Keduanya tampak akrab, seakan mereka baru saja bertemu setelah berpisah lama. Sesekali terdengar tawa berderai di tengah percakapan yang mereka lakukan. Seseorang di antara mereka tampak berbicara, "Paman, Ada satu hal yang mengganjal dalam pikiranku. Mengapa dulu kau berikan aku layang2 saat ayah meninggal? Bukankah benda itu tidak lazim diberikan sebagai tanda belasungkawa? Sampai kini, aku masih memikirkan maksud pemberian itu buatku."
Sang paman tampak mendengarkan. Matanya meneliti wajah pemuda di depannya dengan seksama. "Jadi kamu masih menyimpan layang2 itu?" Pemuda itu menjawab "Ya. Aku masih ingin tahu apa arti semua itu buatku. Aku kehilangan harapan setelah ayah meninggal. Aku masih bersedih hingga saat ini, sebab orang yang kucintai tak lagi bersamaku.Ayah sangat berarti buatku. Seakan semua impianku hilang saat ayah meninggal. " Mata pemuda itu mulai berkaca-kaca.
"Saat itu, Bukanlah waktu yang tepat untuk bermain layang2. Lalu mengapa paman memberikannya buatku?"
Mata Sang paman terus meneliti wajah keponakannya. "Nak, kami juga semua bersedih saat kehilangan ayahmu. Namun, janganlah kamu ikut berputus asa. Layang2 itu kuberikan padamu, agar kamu bisa menegakkan kepalamu saat bersedih. Pandanglah ke langit, tataplah ke angkasa. Layang2 itu adalah sebagai pengingat, bahwa selalu ada harapan di atas sana. Layang2 itu adalah sebagai tanda bahwa akan selalu ada curahan kebahagiaan yang turun dari-Nya. Terbangkanlah layang2 mu setinggi-tingginya, seperti halnya kau terbangkan semua impianmu. Tapi ingat, pegang erat benag di tanganmu, agar tak kehilangan arah dalam menggapai hasratmu."
Lelaki itu melanjutkan ucapannya,"Tataplah ke angkasa, angkat kepalamu setiap kali kau merasa tak bahagia, percayalah di atas sana selalu ada Allah yang akan mendengar setiap doamu."

Teman, Layang2 dimainkan dengan kepala tegakdan bukan dengan menunduk. Layang2 diterbangkan bukan dengan wajah ke bawah tapi dengan menatapnya ke angkasa. Begitupun kita di dalam hidup. Layang2 adalah tanda agar kita selalu percaya bahwa optimisme dimulai dengan membangun harapan, bukan dengan bersedih. Layang2 adalah pengingat buat kita bahwa semangat baru akan hadir bagi mereka yang berpikir positif.

Dikutip dari buku "Kekuatan Cinta" Karangan Irfan Toni Herlambang
Kekuatan Cinta

Alkisah, di pegunungan Andes hidup dua suku. Suku yang satu tinggal di lembah dan suku yang satu tinggal di gunung. Suatu hari, suku gunung menyerbu suku lembah, menjarah sdan memporak-porandakan tempat tinggal suku lembah. Tidak ketinggalan, suku gunung pun menculik seorang bayi.

Suku Lembah yang berniat mengambil kembali bayi tersebut, mengirim prajurit-prajurit pilihannya untuk pergi ke gunung. Tapi sayang, mereka tidak mengerti bagaimana cara mendaki gunung. Segala upaya telah dilakukan, namun mereka tetap gagal. Karena putus asa, mereka pun memutuskan untuk pulang ke desa. Di perjalanan pulang, mereka terkejut ketika melihat ibu dari bayi yang diculik itu sedang menuruni gunung sambil menggendong bayinya.

Mereka terkejut. Seorang ibu yang fisiknya tidak terlatih seperti prajurit-prajurit itu, mampu membawa kembali bayinya dalam keadaan selamat.
Seorang prajurit pun bertanya, "Wahai Ibu, mengapa Engkau bisa mengambil bayi tersebut, padahal kami yang prajurit terlatih saja tidak bisa."

Sang Ibu hanya mengangkat bahu dan berkata," Sebab bayi yang diculik itu bukanlah bayimu. Dan kalian belum pernah menjadi ibu"

Sebenarnya ada dua hal yang menarik dari perkataan sang ibu.

Sebab bayi yang diculik itu bukanlah bayimu.

Kalimat ini mengandung makna implisit tentang cinta sang ibu kepada anaknya. Karena bayi itu adalah anaknya, yang membuatnya mau untuk mengerahkan keberaniannnya demi mengambil anaknya kembali. Karena ia mencintai anaknya.

Dan kalian belum pernah menjadi ibu.


ya,seseorang tidak akan pernah memahami perasaan orang lain kecuali ia telah berada di posisi orang tersebut. mungkin contoh nyata adalah ketika kita masih kecil, dan orang tua kita terkesan selalu mengatur kita dengan segala macam aturan. Ketika itu, tak sebersitpun dipikiran, bahwa itu demi kebaikan kita. Tapi ketika kita telah dewasa dan berkeluarga  kita baru memahami mengapa para orang tua mengatur kita.
Cangkir Yang Cantikhttp://images.multiply.com/common/smiles/cup.png 
http://images.multiply.com/common/smiles/star.pngSepasang kakek dan nenek pergi belanja ke sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. “Lihat cangkir itu,” kata si nenek kepada suaminya. “Kau benar, itu cangkir tercantik yang pernah aku lihat,” ujar si kakek.
            http://images.multiply.com/common/smiles/star.pngSaat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara. “Terima kasih untuk perhatiannya. Perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.
            http://images.multiply.com/common/smiles/star.pngKemudian ia mulai memutar-mutar hingga aku merasa pusing. Stop! Stop! Aku berteriak, tetapi orang itu berkata, “Belum!” Lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop! Teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku kedalam perapian. Panas! Panas! Teriakku dengan keras. Stop! Cukup! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata, “Belum!”
            http://images.multiply.com/common/smiles/star.pngAkhirnya, ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir selesailah penderitaanku. Oh, ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop! Stop! Aku berteriak.
            http://images.multiply.com/common/smiles/star.pngWanita itu berkata, “Belum!” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong! Hentikan penyiksaan ini! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang itu tidak peduli dengan teriakkanku. Ia terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin.
           http://images.multiply.com/common/smiles/star.png Setelah benar- benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.
            http://images.multiply.com/common/smiles/smile.pngTeman, seperti itulah Allah swt. membentuk kita. Pada saat Allah swt. membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi itulah cara mengubah kita agar menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan-Nya.
            http://images.multiply.com/common/smiles/smile.pngTeman, anggaplah sebagai kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai cobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna, utuh, dan tak kekurangan suatu apapun.
            http://images.multiply.com/common/smiles/star.pngApabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati karena Allah swt. Sedang membentuk anda. Bentukan-bentukan itu memang menyakitkan, tetapi setelah semua proses itu selesai Anda akan melihat betapa cantiknya Allah swt. membentuk Anda.

November 5, 2007

Dua orang bersaudara tinggal di suatu ladang. Dulu mereka hidup nyaman, saling bantu, dan saling tolong. Namun, karena suatu masalah, kini mereka berselisih. Kasih sayang yang berlangsung selama hidup berdampingan sepuluh tahun sirna dalam sekejap. Awalnya hanya kesalahpahaman kecil. Lalu menjadi saling ejek dan saling maki, setelah tak bertegur sapa selama seminggu.
Pada suatu pagi si kakak kedatangan tamu. Rupanya seorang tukang kayu yang datang lengkap dengan kotak perkakasnya.
“Saya mencari kerja. Apakah anda punya pekerjaan buat saya?” tanya si tukang kayu itu.
“O ya,” kata si Kakak. “Saya punya satu pekerjaan untukmu. Coba lihat di sana, di ladang sebelah sana. Di sana tinggal tetangga saya. Ehmm, sebenarnya adik saya. Dua minggu lalu dia membuat masalah dengan saya. Sebelumnya di sana ada sebuah tanah lapang, tapi dia telah menguruk tanah itu dan kini ada sebuah lembah kecil di sana. Mungkin ia ingin membatasi tanahnya dengan lembah itu.”
“Tapi,” dia berkata lagi, “Saya bisa lakukan yang lebih baik daripada dia. Kamu lihat kumpulan kayu yang di lumbung itu? Saya ingin kamu membuat pagar. Dan ingat, tingginya harus 10 meter sehingga dia tak akan bisa lagi melihat ladang saya lagi. Saya ingin memberinya pelajaran.”
“Baiklah, saya bisa mengerti masalahnya,” jawab si tukang kayu. “Sekarang, tunjukkan dimana palu dan paku supaya saya bisa mulai bekerja. Saya akan membuat Anda senang dengan pekerjaan saya ini.”
Sang kakak menunjukkan tempat perkakas miliknya, lalu pergi ke kota untuk membeli beberapa barang sehari-hari. Ia juga berpesan kepada si tukang kayu untuk menyelesaikan tugasnya itu dalam seminggu. Jadi, selesai tepat saat ia kembali dari kota.
Tibalah saat itu. Matahari hampir tenggelam ketika sang kakak tiba dari kota. Ia langsung menuju “perbatasan” ladang itu. Matanya terbelalak. Betapa kagetnya ia, sebab di sana tidak dilihatnya pagar. Yang ada justru sebuah jembatan yang menghubungkan ladangnya dengan ladang adiknya. Di ujung jalan yang lainnnya, sang adik ternyata telah berdiri sambil melambai-lambaikan tangan. Dalam temaram senja kedua kakak-beradik itu bertemu di tengah jembatan.
Sang adik berkata, “Kak, engkau begitu baik telah membuatkan satu jembatan buat kita berdua. Padahal aku yang memulai segalanya. Aku yang membuat lembah ini sebagai batas di antara kita. Engkau begitu baik, walaupun atas segala yang pernah kuucapkan dan telah kuperbuat.”
Sang kakak tak menyangka seperti ini kejadiannya. Sebenarnya ia ingin juga membuat batas di antara mereka. Kedua tangan kakak-beradik itu lalu terbuka untuk saling berpelukan. Di tempat yang agak jauh si tukang kayu menyaksikan adegan itu. Kemudian memanggung pekakasnya. Bersiap pergi. Tapi, ekor mata si kakak segera menangkapnya.
“Heii…tunggu! Jangan pergi! Aku punya pekerjaan lain untukmu,” teriak si kakak memanggil si tukang kayu.
“Saya ingin sekali berada di sini dan merasakan kebahagiaan kalian,” kata si tukang kayu. “Tapi, masih banyak jembatan lagi yang harus kubangun. Terima kasih.”
Teman, jembatan antarmanusia adalah cinta dan kasih sayang. Dalam cinta kita akan menemukan saling pengertian, pengharapan, welas asih, perhatian, peneguhan, dukungan, semangat, dan banyak hal lainnya. Jika tak bisa menemukan cara untuk memberikan kasih kepada banyak orang, setidaknya kita
punya cara untuk mengingat bahwa kita telah lakukan yang terbaik.
Sesungguhnya yang kita butuhkan hanyalah sedikit sentuhan bahwa sebenarnya kita adalah satu dan punya keinginan yang sama:
DICINTAI dan MENCINTAI.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar